Catatan Sahabon
Secangkir Teh yang Membahagiakan, dari Mana Minuman itu Bermula?
Oleh: Dian Samanea
Di antara kegiatan yang membuat bahagia adalah menyeruput secangkir teh hangat sambil menikmati matahari pagi. Cahaya matahari yang tumpah di badan, lalu air teh yang hangat ke lambung, dijamin membuat hari yang dihadapi semakin cerah.
Bolehlah dibuktikan, bahwa penelitian mengungkapkan daun teh melepaskan asam amino ketika diseduh. Jika masuk ke tubuh orang, asam amino itu dapat meredakan stres dan membuat orang lebih rileks.
Tradisi minum teh memang telah tertanam dalam kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari. Di banyak rumah-rumah penduduk di Jawa Barat misalnya, air teh malah menjadi minuman utama orang seisi rumah dan bukannya air putih.
Jikapun fatwa medis-korporatis tentang minum air putih (bening?) delapan gelas per hari sudah diimani, ada juga orang-orang yang tidak meninggalkan teh.
Bahkan di antara mereka, ada yang menyandingkan poci berisi air teh dengan segalon air putih. Air dari keduanya tetap diminum.
Minum teh memang menjadi kebiasaan lama. Mungkin saja jauh sebelum tanaman teh ditanam koloni Belanda di sekitar kita. Jauh sebelum keluarga K.F. Holle dan keluarga Kerkhoven membuka perkebunan-perkebunan teh di Cikajang dan Gambung, Jawa Barat.
Tapi apakah yang diseduh sebelum kedatangan Belanda itu daun teh yang kita kenal sekarang ini? Itu bisa menjadi bahasan lain pada tulisan yang lain.
Sekarang, ayo kita lihat bagaimana pengisahan Linda Gaylard, seorang ahli tentang teh mengenai perjalanan secangkir teh yang membahagiakan itu.
Linda dalam The Tea Book (2015) menuliskan bahwa teh ditemukan Kaisar Shennong di Cina pada tahun 2737 SM. Ketika itu, Shennong sedang berteduh di bawah pohon perdu yang bau daunnya terasa sangat wangi.
Kaisar sedang menunggu air masak. Namun, ke dalam wajan tempat air dimasak, jatuhlah daun perdu tadi yang oleh Shennong tak digubris, sampai air di wajan berubah warna.
Air itu malah semakin menggoda dengan aroma yang wangi dan menyegarkan. Shennong menyukainya, dan pohon perdu itulah yang kemudian kita kenal saat ini sebagai tanaman teh.
Tanaman teh dipelihara dan dibawa menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali ke Jepang yang tradisi masyarakatnya dalam meminum teh sangat mashyur dan juga ke Indonesia.
Teh atau Camelia sinensis dengan segala varietasnya tiba di Indonesia pada 1619 dibawa oleh penjajah Belanda. Jenis yang pertama kali ditanam adalah Camelia Sinensis var. sinensis pada tahun 1684 dan gagal berkembang.
Pada pertengahan tahun 1800-an, Belanda menyadari bahwa varietas lain dari teh, yakni var. assamica lebih cocok ditanam di Indonesia dan berkembang sangat baik.
Dari tanaman var. assamica itu dihasilkan beragam varian teh sesuai posisi tumbuh daun yang dipetik. Di Indonesia, ada petikan yang menghasilkan black tea, oolong, dan green tea.
Dengan perkebunan yang teramat luas, Indonesia menjadi satu di antara negara penghasil teh terbesar di dunia, hingga saat ini. Dongeng-dongeng kejayaan perkebunan teh di Indonesia bisa dibaca di antaranya dalam kisah-kisah keluarga Kerkhoven.
Tentang keluarga Kerkhoven ini, sastrawan Belanda, Hella S Haasse menulis novel yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berkisah juragan teh: "Sang Juragan Teh".
Di dalamnya, pembaca bisa terbawa asik menjelajahi hutan di Bandung Selatan dengan menunggang kuda, hutan yang dingin dalam proses membuka lahan untuk perkebunan teh Gambung.
Teh telah melintasi rangkaian zaman. Perjalanan yang panjang dan melelahkan ditempuh hanya untuk menghadirkan bahagia di cangkir kita saat ini.
Catatan tambahan dari Bonafe :
melalui tulisan A Dian di atas, kita bisa berkontemplasi bahwa setiap bahan pangan (minuman dan makanan) yang kita konsumsi saat ini, telah melalui serangkaian perjalanan panjang melalui lini masa peradaban manusia.
Manusia dengan segala rasa penasaran menemukan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dikonsumsi, manusia dengan rasa penasaran yang sama memberanikan diri mencoba mengonsumsi suatu reaksi yang tidak sengaja ditemukan.
"Lah kok enak ?"
mungkin begitulah kata hati Sang Kaisar yang pertama kali meminum air panas yg "kapurulukan" daun Teh.
sejak 2737 SM sampai sekarang di tahun 2022 M, kita masih menikmati Teh yang disajikan hangat ataupun dingin, yang cokelat ataupun hijau, yang ditambah lemon ataupun susu.
Terlepas dari bagaimanapun cara kita menyeduh dan menikmati secangkir Teh, minuman ini selalu senantiasa menemani dan dapat dinikmati semua orang.
mulai dari diminum oleh para petani di sawah, untuk sekedar melepas lelah
sampai menjadi jamuan untuk bangsawan kerajaan dalam upacara kenegaraan.
haturnuhun pisan Teh.